WASHINGTON DC – Hubungan Indonesia dan Amerika Serikat di bidang pendidikan kembali diperkuat melalui pertemuan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo dengan Presiden Harvard University, Dr. Alan Garber, di Washington DC, Kamis (23/7/2026). Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang kerja sama strategis, mulai dari pendidikan tinggi, riset, kesehatan, hingga pengembangan sumber daya manusia unggul.
Harvard University merupakan universitas tertua di Amerika Serikat yang didirikan pada 1636 di Cambridge, Massachusetts. Kampus yang dinamai untuk menghormati John Harvard itu secara konsisten menempati jajaran universitas terbaik dunia dan dikenal sebagai pusat lahirnya para pemimpin, ilmuwan, inovator, serta peraih Nobel dari berbagai negara.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menegaskan pentingnya memperluas kolaborasi akademik yang memberikan manfaat nyata bagi Indonesia. Kerja sama tidak hanya diarahkan pada peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga penguatan riset dan inovasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan nasional.
"Harvard memiliki tradisi panjang dalam melahirkan pemimpin dunia dan pusat-pusat inovasi. Indonesia ingin membangun kemitraan yang saling menguntungkan agar semakin banyak talenta Indonesia memperoleh akses terhadap pendidikan, penelitian, dan jejaring akademik kelas dunia," ujar Indroyono Soesilo.
Bagi masyarakat Indonesia, Harvard selama ini identik sebagai kampus impian. Namun bagi ratusan putra-putri bangsa, Harvard bukan lagi sekadar mimpi. Hingga 2022 tercatat sekitar 315 alumni asal Indonesia telah menamatkan pendidikan di universitas tersebut, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah alumni Harvard terbanyak di Asia Tenggara.
Secara global, Harvard memiliki sekitar 400 ribu alumni yang masih hidup serta lebih dari 150 peraih Nobel yang berasal dari ekosistem akademiknya. Reputasi tersebut menjadikan Harvard sebagai salah satu institusi pendidikan paling berpengaruh di dunia.
Jejaring alumni Harvard juga diisi oleh berbagai tokoh dunia, seperti John F. Kennedy, Barack Obama, George W. Bush, Steve Ballmer, dan Ratan Tata. Dari Indonesia, sejumlah nama yang dikenal publik antara lain Agus Harimurti Yudhoyono, Nadiem Makarim, Gita Wirjawan, Andhika Perkasa, Yenny Wahid, Tom Lembong, Sandiaga Uno, Billy Mambrasar, hingga Stella Christie. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa Harvard telah menjadi ruang pembentukan pemimpin, pemikir, dan inovator Indonesia di berbagai bidang.
Hubungan Indonesia dengan Harvard juga terus berkembang melalui berbagai kerja sama institusional. Bersama Harvard Medical School, Indonesia mendorong penguatan pendidikan kedokteran, pengembangan riset kesehatan, serta peningkatan layanan kesehatan primer berbasis komunitas. Selain itu, mahasiswa Indonesia di Harvard Kennedy School, Harvard Law School, maupun Harvard T.H. Chan School of Public Health turut menghasilkan berbagai riset mengenai kebijakan publik, hukum, dan kesehatan yang relevan bagi Indonesia.
Melalui dukungan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Harvard menjadi salah satu tujuan utama penerima beasiswa Indonesia. Ke depan, pemerintah juga terus mengembangkan berbagai skema pengiriman talenta terbaik Indonesia ke universitas-universitas papan atas dunia sebagai bagian dari strategi membangun sumber daya manusia yang mampu bersaing di tingkat global.
Menurut Indroyono Soesilo, investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya pada infrastruktur, melainkan pada kualitas manusianya.
"Semakin banyak anak bangsa yang memperoleh kesempatan belajar di pusat-pusat ilmu pengetahuan dunia, semakin besar pula peluang Indonesia melahirkan pemimpin, ilmuwan, dan inovator yang akan membawa kemajuan bagi bangsa. Itulah fondasi kerja sama yang ingin terus kita bangun bersama Harvard," tutupnya.
