Kemenekraf Aktifkan Creative Hub di Simalungun, Dorong Produk Kriya Lokal Tembus Pasar Nasional dan Global

SIMALUNGUN — Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mengaktifkan Creative Hub di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, melalui Workshop Kriya bertema Inovasi Desain dan Nilai Tambah Produk. Kegiatan ini menjadi upaya memperkuat kapasitas pelaku kriya lokal agar mampu mengembangkan produk berbasis budaya dan potensi daerah yang berdaya saing di pasar nasional hingga global.

Workshop yang berlangsung selama dua hari, 28–29 Oktober 2026, di Wisma Tabor, Parapat, Simalungun, dibuka secara resmi oleh Direktur Kriya Kemenekraf, Neli Yana. Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 50 pelaku kriya binaan dan dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf).

Melalui aktivasi Creative Hub, Kemenekraf mendorong pelaku kriya untuk tidak hanya mempertahankan warisan tradisi, tetapi juga mengembangkan inovasi desain, meningkatkan kualitas, serta menciptakan nilai tambah produk sesuai kebutuhan pasar.

Creative Hub diharapkan menjadi ruang kolaborasi, pengembangan ide, dan peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif. Hal ini penting mengingat subsektor kriya memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat di kawasan Danau Toba, khususnya Kabupaten Simalungun.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Simalungun, Eva Suryati Ulyarta, mengapresiasi pelaksanaan aktivasi Creative Hub yang memberikan kesempatan bagi puluhan pelaku usaha untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas produknya.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ada pendampingan bagi 50 UMKM di Simalungun yang terlibat dalam workshop ini,” ujar Eva.

Menurutnya, Simalungun memiliki kekayaan budaya dan sumber daya lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk kriya bernilai ekonomi tinggi. Potensi tersebut mencakup motif tekstil tradisional, kerajinan berbahan alam, suvenir, aksesori, dekorasi, hingga berbagai keterampilan masyarakat yang diwariskan lintas generasi.

Namun, Eva mengingatkan bahwa kekayaan tradisi perlu diiringi kemampuan membaca perkembangan pasar agar produk lokal tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga diminati konsumen.

“Dalam ekonomi kreatif, justru nilai simbolik inilah yang sering menjadi pembeda yang meningkatkan kesediaan konsumen untuk membayar lebih. Inovasi desain bukan berarti meninggalkan identitas tradisional. Inovasi adalah kemampuan untuk membaca perubahan tanpa kehilangan jati diri,” tegasnya.

Ia menjelaskan, nilai budaya harus tetap menjadi sumber inspirasi dalam pengembangan produk. Sementara itu, aspek desain, fungsi, ukuran, warna, material, kemasan, hingga strategi pemasaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan selera konsumen masa kini.

Dengan pendekatan tersebut, tradisi dan modernitas tidak perlu dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan agar warisan budaya tetap hidup, digunakan, dihargai, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Eva juga menyoroti tantangan keberlanjutan usaha kriya setelah pelaku mendapatkan pelatihan maupun bantuan peralatan. Menurutnya, dukungan yang telah diberikan perlu diikuti pendampingan berkelanjutan agar mampu menghasilkan dampak ekonomi yang nyata.

“Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan. Kenapa para pelaku kriya ini tidak dapat berkelanjutan? Padahal kalau dihitung, biaya untuk alat membuat ulos misalnya, sudah cukup banyak bantuan yang diberikan. Tapi memang keberlanjutannya yang perlu kita jaga bersama,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Kriya Kemenekraf, Neli Yana, menekankan pentingnya meningkatkan kualitas dan daya saing produk agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional.

Dari lebih dari 50 pelaku kriya yang mengikuti workshop, Neli berharap setidaknya separuhnya mampu membawa produk ke pasar nasional.

“Di sini ada 50 pelaku kriya, saya ingin produk yang masuk ke pasar nasional itu minimal 25,” ujarnya.

Menurut Neli, pelaku kriya perlu memperluas wawasan mengenai karakteristik pasar dan perilaku konsumen. Produk yang dihasilkan tidak cukup hanya menarik secara visual, tetapi juga harus mampu memenuhi kebutuhan pembeli, termasuk wisatawan dan pasar dengan permintaan dalam jumlah besar.

Ia juga mendorong pelaku kriya untuk memanfaatkan kesempatan mengikuti berbagai pameran, termasuk pameran internasional, sebagai sarana memperkenalkan produk sekaligus memperluas jaringan pemasaran.

“Produk kriya itu harus menarik dan mampu memenuhi permintaan pasar,” katanya.

Dalam sesi pengembangan produk, narasumber workshop, Sugeng Untung, menjelaskan bahwa keberhasilan usaha kriya tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan menghasilkan barang, melainkan juga ketepatan dalam menciptakan produk yang dibutuhkan konsumen.

“Produk yang tepat, itu yang laku. Ada tiga hal yang harus diketahui agar mendapatkan produk yang tepat, yaitu good image, good design, dan good quality. Sehingga, konsumen tidak hanya mendapatkan produk tapi juga nilai yang dirasakan,” jelas Founder Tashmiim Furniture & Crafts tersebut.

Sugeng mendorong pelaku kriya untuk membangun karakter produk yang kuat, memiliki identitas, dan mampu menciptakan pengalaman yang membuat konsumen ingin kembali membeli.

“Buat produk yang dibutuhkan pasar. Buat konsumen balik lagi dengan produk yang punya branding, yang diingat dan dirasakan. Buat produk dari harga terendah sampai tertinggi. Jadi, konsumen punya pilihan mau beli yang murah atau mahal,” paparnya.

Ia menambahkan, pengembangan produk perlu memperhatikan berbagai aspek, mulai dari inovasi, fungsi, estetika, kemudahan penggunaan, kejujuran dalam penyajian produk, daya tahan, ketelitian pengerjaan, hingga prinsip ramah lingkungan.

Sugeng juga mengingatkan pentingnya keterbukaan terhadap masukan konsumen maupun pihak lain sebagai bagian dari proses perbaikan kualitas produk secara berkelanjutan.

Perspektif pengembangan usaha turut disampaikan Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Simalungun, Arifin Sihombing, melalui Wakil Ketua Suherman. Ia menilai keberadaan pusat pemasaran khusus produk kriya menjadi salah satu kebutuhan untuk memperkuat ekosistem usaha para perajin lokal.

“Saya sudah pernah usulkan ke Pemkab Simalungun agar dibuat satu tempat khusus untuk produk kriya. Saat ini, produk kriya itu tumbuh sendiri, kembang sendiri,” ujar Suherman.

Menurutnya, keberadaan pusat pemasaran atau sentra UMKM dapat membantu produk kriya lebih mudah ditemukan konsumen, memperluas jangkauan pasar, serta membuka peluang kolaborasi antarpelaku usaha.

Suherman juga menyoroti peluang ekonomi dari pemanfaatan limbah yang selama ini belum dimaksimalkan. Dengan kreativitas dan inovasi, bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual.

“Peluang-peluang seperti itu yang bisa dilihat para pelaku UMKM,” katanya.

Ia menegaskan bahwa nilai tambah produk kriya tidak hanya terletak pada bahan dan proses pembuatannya, tetapi juga pada nilai budaya, seni, keaslian karya tangan, cerita di balik produk, kenyamanan penggunaan, serta jaminan mutu.

Unsur-unsur tersebut perlu dikomunikasikan melalui strategi pemasaran yang terencana agar konsumen memahami keunggulan produk dan bersedia membayar sesuai nilai yang ditawarkan.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelaksanaan workshop. Diskusi berlangsung interaktif, diselingi suasana akrab dan canda tawa, sekaligus membuka ruang bagi para perajin untuk bertukar pengalaman dan memperoleh wawasan baru dalam mengembangkan usaha.

Devi Sitanggang, salah satu pelaku kriya yang mengembangkan produk berbahan dasar benang, mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan tersebut.

“Kita jadi tahu bagaimana caranya agar produk kriya kita bisa laku di pasaran,” ujar warga Parapat itu.

Hal senada disampaikan Lidia Sidabutar, pelaku kriya lainnya. Ia menilai workshop tersebut menjadi ruang belajar yang bermanfaat untuk memperluas jejaring, meningkatkan kemampuan, serta mendorong kenaikan nilai jual produk.

Melalui aktivasi Creative Hub dan workshop kriya ini, pengembangan ekonomi kreatif di Simalungun diharapkan tidak berhenti pada pelatihan semata. Kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, narasumber, dan komunitas menjadi penting untuk memastikan potensi kriya lokal berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan, memperkuat identitas budaya, serta membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk unggulan daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *