Washington D.C., 2 Juni 2026 – Riuh suara anak-anak memenuhi Wisma Indonesia di Washington D.C. saat siswa kelas 5 John R. Francis Education Campus dengan antusias menjawab pertanyaan tentang Indonesia. Ketika ditanya mengenai gunung terkenal di Indonesia, mereka serempak menjawab “Rinjani”. Saat ditanya alat musik bambu khas Indonesia, jawabannya adalah “Angklung”. Pertanyaan tentang biawak raksasa dijawab dengan “Komodo”, sementara “Melati” disebut sebagai bunga nasional Indonesia.
Kemampuan para siswa mengenali Indonesia tersebut merupakan hasil pembelajaran selama satu tahun penuh melalui Embassy Adoption Program (EAP), sebuah program edukasi global yang menghubungkan siswa sekolah negeri di Washington D.C. dengan kedutaan besar dan perwakilan diplomatik berbagai negara.
Didirikan pada tahun 1974 melalui kemitraan antara Washington D.C. Public Schools (DCPS) dan Washington Performing Arts, EAP memberikan kesempatan kepada siswa kelas 5 dan 6 untuk mempelajari bahasa, budaya, sejarah, makanan, hingga pandangan negara adopsinya terhadap berbagai isu global. Para diplomat secara rutin mengunjungi kelas, sementara guru dan perwakilan kedutaan bersama-sama menyusun kurikulum yang sesuai dengan standar pendidikan DCPS.
Berbagai kegiatan menjadi bagian dari program ini, mulai dari kunjungan kelas, field trip ke pusat budaya, museum dan restoran, pembelajaran seni tradisional dan lagu kebangsaan, hingga kegiatan Mini United Nations yang mengajak siswa berperan sebagai delegasi negara adopsinya dalam simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membahas isu-isu global seperti perubahan iklim dan penanggulangan bencana.
Puncak kegiatan EAP adalah Capstone Presentation, yaitu ajang bagi para siswa untuk menampilkan hasil pembelajaran mereka di hadapan orang tua, perwakilan diplomatik, dan Washington Performing Arts. Kegiatan inilah yang digelar di Wisma Indonesia pada 2 Juni 2026.
Hingga saat ini, EAP telah menghubungkan lebih dari 50.000 siswa di Washington D.C. dengan lebih dari 100 kedutaan besar dan lembaga diplomatik dari berbagai negara. Program ini juga pernah memperoleh penghargaan dari U.S. Department of Education sebagai Program Pendidikan Internasional Terbaik. KBRI Washington D.C. sendiri telah berpartisipasi dalam program tersebut selama sekitar 20 tahun terakhir.
Pada tahun ajaran 2025–2026, KBRI Washington D.C. bekerja sama dengan John R. Francis Education Campus menyelenggarakan berbagai kegiatan bertema Indonesia bagi siswa kelas 5. Salah satunya adalah lokakarya batik yang memungkinkan para siswa mendesain motif batik mereka sendiri dan melihat hasil karyanya muncul melalui proses pewarnaan celup. Kreativitas para siswa mendapat apresiasi dari para diplomat Indonesia maupun pihak sekolah yang menilai kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.
Para siswa juga berkesempatan mengunjungi National Museum of Asian Art yang merupakan bagian dari Smithsonian Institution untuk mengenal koleksi seni Indonesia, melihat koleksi arsip museum dari dekat, serta mengikuti kegiatan menggambar bertema naga yang terinspirasi dari kekayaan budaya Asia.
Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi EAP sebagai bagian penting dari diplomasi lunak dan penguatan hubungan antarmasyarakat kedua negara. “Kami berharap ke depan dapat dikembangkan program pertemuan daring antara siswa sekolah dasar di Indonesia dan Amerika Serikat agar mereka dapat saling mengenal sejak usia dini melalui dukungan teknologi yang semakin maju,” ujarnya.
Melalui EAP, Indonesia tidak hanya diperkenalkan sebagai negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara, tetapi juga hadir dalam pengalaman belajar generasi muda Amerika Serikat. Dari Rinjani, angklung, komodo hingga melati, Indonesia menjadi bagian dari perjalanan pendidikan yang menumbuhkan rasa ingin tahu, pemahaman, dan persahabatan lintas budaya sejak usia dini.
